DINAS ARSIP DAN PERPUSTAKAAN KAB. SRAGEN
0271 892721 sms 081329343920 081329343920 perpustakaansragen@gmail.com
Ayo Gemar Membaca Untuk Mewujudkan SRAGEN SMART CITY

Membangun Budaya Baca di Sekolah Dasar Berbasis Perpustakaan

Monday, October 2nd 2017.

Oleh : Romi Febriyanto Saputro

Kasi Pembinaan Arsip dan Perpustakaan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kab. Sragen

 

A. Pendahuluan

Membudayakan membaca merupakan salah satu  karakter penting dalam penguatan pendidikan karakter. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menyebutkan bahwa penguatan pendidikan karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meiiputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatit mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungiawab.

Penguatan pendidikan karakter memiliki tujuan, pertama,  membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan. Kedua, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi Peserta Didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia. Ketiga, merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter.

B. Perpustakaan

Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,  perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Sebagai satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa. Dalam rangka meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa, perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam

Pendidikan dan perpustakaan sebenarnya merupakan satu  kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (integral). Seperti telah dicanangkan oleh UNESCO, bahwa pendidikan untuk semua (education for all), dapat lebih berhasil jika dilengkapi oleh perpustakaan. Oleh karena pendidikan merupakan proses alih dan pengembangan ilmu pengetahuan, dengan sekolah dan perpustakaan sebagai medianya, maka perkembangan bidang pendidikan berkaitan erat dengan keberadaan perpustakaan. Sesuai dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, maka pendidikan juga berkembang, sehingga antara pendidikan dan perpustakaan bagaikan dua sisi mata uang yang sama nilainya dan tak dapat dipisahkan, keduanya saling melengkapi dan mengisi (Soetarno, 2003)

Perpustakaan adalah penunjang utama kegiatan pendidikan baik formal maupun informal. Dengan kata lain perpustakaan sebagai sarana pembelajaran masyarakat. Hal ini sejalan dengan dua prinsip pendidikan yang dikemukakan Unesco (1994). : a). Pendidikan harus diletakkan pada empat pilar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together) dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). b). Belajar seumur hidup (life long learning).

Dua prinsip pendidikan dari UNESCO di atas tentu saja memerlukan perpustakaan sebagai fasilitatornya. Pendidikan sektor informalpun sangat memerlukan dukungan perpustakaan, karena melalui perpustakaan masyarakat dapat belajar secara otodidak, melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan dan mengembangkan  sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bakat dan potensinya.

C. Literasi

Tati D Wardi dalam tulisan yang berjudul Paradigma Baru Literasi (Tempo, 20 November 2013) mengungkapkan  bahwa dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar sejatinya bertaut erat dengan literasi. Perlu dicatat, konsep literasi di sini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca-tulis, tapi juga berkaitan dengan kemampuan memaknai teks, seperti huruf, angka, dan simbol kultural, seperti gambar dan simbol secara kritis.

Literasi dalam arti luas seperti ini sejatinya sudah cukup lama menjadi acuan UNESCO.  Ini bisa kita baca dari Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 tentang literasi dunia. Di situ dinyatakan, literasi adalah hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan. Terpenuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, pengetahuan teknologi, dan aturan hukum, serta mampu memanfaatkan kekayaan budaya dan daya guna media. Singkatnya, literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Karena itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan.

Untuk mengatasi ketertinggalan Indonesia di bidang literasi ini, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah merevisi paradigma usang literasi dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefleksikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi, dan gambar dari pelbagai penjuru. Upaya strategis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.

Fungsi buku dan teks bukan sekadar rujukan, tapi juga sebagai medium untuk berpikir kritis dengan cara mendiskusikan makna yang bukan sekadar permukaan. Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan (lebih dari sekadar buku teks) sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dialogis, aktif, dan kritis.  Buku tentu saja bukan satu-satunya faktor di sini.  Peningkatan literasi siswa juga mengandaikan perlunya guru dipersiapkan untuk menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas. Dengan begitu, siswa punya kesempatan meningkatkan daya literasi mereka di sekolah.

D. Strategi Pelaksanaan

H.A.R Tilaar (1999) mengungkapkan bahwa menggalakkan gairah membaca berarti akan mengubah proses belajar di sekolah-sekolah kita, dari proses belajar satu arah menjadi proses belajar dua arah atau multi arah dengan menggunakan sumber-sumber bacaan sebagai pengungkit dialog antara guru dan siswa. Apabila cara belajar-mengajar kita dewasa ini masih didominasi oleh proses yang dikatakan oleh Paulo Freire mengenai cara belajar “sistem bank” tidak mungkin akan kita kembangkan gemar membaca terhadap anak-anak kita.

Seperti kita ketahui filsuf Paulo Freire menganjurkan agar supaya proses belajar-mengajar hendaknya membangkitkan nalar dan kreativitas siswa dengan cara memotivasi siswa belajar mencari data-data, menganalisis data-data tersebut di dalam arti sebenarnya atau seperti yang tadi disebut memberikan arti kepada dunia. Proses pemberian arti tersebut tidak dapat diperoleh melalui cara belajar-mengajar satu arah yaitu apa yang didiktekan oleh para guru kepada anak didiknya, tetapi melalui dialog antara guru dan para siswanya dengan menggunakan sumber-sumber informasi yang ada sehingga muncullah pengertian-pengertian yang sebenarnya dari kedua belah pihak. Di dalam proses ini sumber-sumber bacaan menjadi sumber-sumber yang penting untuk memperoleh pengertian-pengertian yang kaya dimensi.

Proses belajar yang demikian tentulah akan memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan seoptimal mungkin. Guru dan peserta didik aktif bersama mencari informasi di perpustakaan sekolah. Ada  beberapa strategi yang bisa dilaksanakan, pertama, memuliakan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah harus menjadi wahana yang menyenangkan bagi warga sekolah dalam  mencari informasi. Tak hanya buku cetak melainkan juga buku elektronik. Perlu komitmen bersama antara kepala sekolah, guru, dan pustakawan untuk mengarusutamakan perpustakaan sekolah.

Perpustakaan sekolah tak boleh diabaikan lagi. Ruang perpustakaan sekolah diharapkan tidak lagi menjadi korban penggusuran. Menurut Suyanto (2003), suatu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik. Maka tidaklah mengherankan jika dalam hal kualitas sumber daya manusia, Indonesia menduduki peringkat yang lebih rendah daripada Vietnam.

            Kedua, menerapkan model belajar konstruktivisme. Menurut E Mulyasa (2002), fokus pendekatan konstruktivisme bukan pada rasionalitas, tapi pada pemahaman. Inilah alasan utama mengapa konstruktivisme dengan cepat dapat menggantikan teori perkembangan kognitif sebagai dasar dalam penelitian dan praktik pendidikan. Daya tarik dari model konstruktivisme ini adalah pada kesederhanaannya.

Strategi pokok dari model belajar mengajar konstruktivisme adalah meaningful learning, yang mengajak peserta didik berpikir dan memahami materi pelajaran, bukan sekadar mendengar, menerima, dan mengingat. Setiap unsur materi pelajaran harus diolah dan diinterpretasikan sedemikian rupa sehingga masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal, tidak akan menempel lama dalam pikiran.

Strategi ini menghendaki baik siswa maupun guru memiliki kedudukan sebagai subjek belajar. Sebagai subjek belajar, keduanya dituntut aktif untuk mencari data, informasi dan interpretasi dari materi pelajaran. Siswa dituntut bersikap kritisisme terhadap materi pelajaran, bukan sekadar meniru, copy paste dan menghafal yang diberikan guru. Dengan strategi ini siswa dan guru didorong memiliki minat baca yang cukup tinggi dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah.

Strategi meaningful learning sangat memerlukan dukungan perpustakaan sekolah  sebagai sumber belajar. Setelah jam pelajaran selesai, perpustakaan diharapkan masih membuka layanan terhadap peserta didik minimal selama 1 jam. Meminjam istilah dari teori dua faktor Frederick Herzberg, peran perpustakaan adalah sebagai faktor higinis. Berfungsi mencegah terjadinya ketidakpuasan siswa dalam mencari informasi dan data yang diperlukan. Faktor higinis memang tidak berkaitan langsung dengan prestasi siswa, tetapi tanpa tersedianya perpustakaan sekolah yang memadai dapat mengganggu kelancaran proses belajar mengajar.

Perpustakaan dapat dimanfaatkan siswa dan guru sebagai tempat pembelajaran di luar kelas. Kebutuhan siswa untuk melakukan active playing (belajar aktif), interpretation (interpretasi), make sense (masuk akal), negotiation (pertukaran pikiran), cooperative (kerjasama) dan inquiry (menyelediki) dapat dilakukan di perpustakaan sekolah. Di perpustakaan siswa juga dapat melaksanakan konsep belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar seumur hidup (life long learning).

Ketiga, melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Menurut Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (2016), keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.

Uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan. Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013). Sebanyak 65 negara berpartisipasi dalam PISA 2009 dan 2012.

Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah. Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Keempat, membiasakan peserta didik untuk menulis sejak dini. Untuk lebih menunjang keberhasilan siswa dalam meaningful learning, pendidikan menulis sebagai mata pelajaran tersendiri perlu dilakukan. Di Inggris dikenal istilah writing yang berdiri sebagai mata pelajaran tersendiri. Dengan menulis sebagai mata pelajaran tersendiri, sejak kecil siswa dilatih untuk mencintai menulis. Hal ini didukung data penelitian yang dilakukan Tizard dan kawan-kawan (Suyanto, 2003), yaitu dari 108 siswa kelas 2 SD di Inggris yang memiliki kemampuan menulis di buku 24 %, menulis deskriptif 23 %, menulis cerita 19 %, menulis berita 11 %, menulis indah 10 %, menulis pada kartu ucapan 7 %, labelisasi pada gambar 3 % dan menulis puisi/drama 2 %.

Pelajaran menulis akan memotivasi siswa untuk gemar membaca. Hanya dengan rajin membaca, siswa akan memperoleh bahan informasi dan data untuk mendukung tulisannya. Pelajaran menulis layak dipertimbangkan untuk mendongkrak stagnasi minat baca masyarakat kita, termasuk di dalamnya siswa dan mahasiswa. Dengan asumsi teori X dari Douglas Mc Gregor, siswa yang sebagian besar kurang gemar membaca perlu ‘dipaksa’ membaca di perpustakaan dengan adanya pelajaran menulis ini.

E. Kesimpulan

Perpustakaan sekolah adalah jantung pendidikan di sekolah dasar.  Seperti jantung perpustakaan memompa dan mengalirkan darah budaya membaca ke segenap penghuni sekolah. Menghasilkan guru dan peserta didik yang berbudaya literasi. Mampu memberdayakan informasi yang ada di buku, internet, dan media informasi lain untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar.

Peserta didik yang berbudaya membaca inilah yang kelak diharapkan menjadi Generasi Emas 2045. Generasi yang mampu menjadi daya ungkit untuk membudayakan membaca di lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja. Generasi yang menguasai informasi, pengetahuan, dan teknologi sehingga bisa membawa negeri tercinta ini dari negara berkembang menjadi negara maju.

 

Daftar Pustaka

Mulyasa,E.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung : Remaja Rosda Karya.

Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaanl. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar.

Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter

Sutarno NS. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Suyanto. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa.

Tati D Wardi (2013). Paradigma Baru Literasi . Tempo, 20 November 2013

Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21, Magelang : Indonesia Tera.

Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

 

 

 

 

 

 

 

Produk terbaru

Tiga Kelana Ian Brown
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangThe BOY In The MOON : Perjuangan Seorang Ayang dari Anak Penyandang Sindrom CFC
Harga Tiga Kelana Ian Brown
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
Gava Media Bunafit nugroho
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangLatihan Membuat Aplikasi WebPHP dan mySQL dengan Dreamweaver
Harga Gava Media Bunafit nugroho
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
Republika Rusdiono Mukri dan Yulianto
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangJURUS JITU ATASI KRISIS : Pengalaman Mustafa Abubakar Memimpin Bulog
Harga Republika Rusdiono Mukri dan Yulianto
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
PT. Ikrar Mandiriabadi Grolier International, Inc
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangIlmu Pengetahuan Populer
Harga PT. Ikrar Mandiriabadi Grolier International, Inc
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
New Diglossia Roy Chandra Putra
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangCari DUIT Lewat Bengkel Komputer dan Laptop
Harga New Diglossia Roy Chandra Putra
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
R&W Publishing Dr. Dino patti Djalal
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangHARUS BISA!!!! : Seni Memimpin Ala SBY
Harga R&W Publishing Dr. Dino patti Djalal
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
Progressio Fahmi Nurul Akbar
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBuku Pintar Wirausaha : KOMUNIKASI Penjualan Kreatif
Harga Progressio Fahmi Nurul Akbar
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail
Kompas JA Noert Jahyo
Order Sekarang » SMS : 081329343920
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangDari Ladang sampai Kabinet : Menggugat Nasib Petani
Harga Kompas JA Noert Jahyo
Anda Hemat
Warning: Division by zero in /home/www/arsippus.sragenkab.go.id/wp-content/themes/WPgrosir/includes/stores/inc/vtr-price.php on line 67
0 (0.00%)
Lihat Detail

Jumlah Pengunjung

Hubungi Kami

0271 892721
081329343920
081329343920
perpustakaansragen@gmail.com

Calender

August 2019
M T W T F S S
« Jul    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
0271 892721
081329343920
081329343920
perpustakaansragen@gmail.com